Menjadi Cerdas Dalam Kepungan Televisi

“Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia harus melindungi warga negaranya untuk mendapat informasi yang tepat, akurat, dan bertanggung jawab, serta hiburan yang sehat”

Begitulah kurang lebih salah satu pertimbangan kemunculan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nomor 3 Tahun 2007 tentang SPS (Standar Program Siaran). SPS adalah salah satu dari sekian banyak pera-turan yang mengatur dunia pertelevisian. Jika UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran mencantumkan pedoman penyiaran dan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mencantumkan hak konsumen, maka SPS adalah upaya untuk mengatur dunia penyiaran (termasuk pertelevisian) dalam rangka memenuhi hak-hak konsumen.

Meski hak-hak konsumen di dalam SPS tidak dinyatakan benar sebagai hak, rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh setiap lembaga penyiaran dalam melakukan siaran secara tidak langsung merupakan gambaran kewajiban yang harus dipenuhi untuk menghormati hak konsumen sehingga tidak merugikan.

Secara istimewa Harmoni menjumpai Victor Djarot, Dewan Penasihat Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK), untuk berdiskusi terkait dengan tema bulan ini “Keluarga Dalam Kepungan Televi-si”. LPK merupakan lembaga sosial yang berdiri sejak tahun 2000. Lembaga yang bertempat di jalan Basuki Rahmad No. 147, Surabaya ini lahir dari sebuah kerinduan untuk terlibat dan berproses bersama dalam masyarakat untuk menciptakan perbaikan.

Berbeda dengan KPI yang khusus menangani dunia penyiaran, LPK menangani produk dan jasa yang digunakan oleh konsumen media. Hal inilah yang membuat pengaduan isi siaran TV tidak langsung dilaporkan ke LPK. “Umumnya masyarakat langsung melaporkan pengaduan kepada KPI,” imbuh alumnus SMA Kolese De Britto Yogyakarta ini.

Selain itu, karena kerugiannya tidak langsung terasa, masyarakat enggan repot melapor. “Masyarakat sering tidak merasa dirugikan dengan siaran televisi karena produk dan jasanya tidak dapat disentuh dan dirasakan langsung,” tutur pria asli Solo ini. LPK sendiri menemukan bahwa masyarakat sebetulnya dirugikan oleh kualitas tayangan televisi yang kurang baik akibat peralatan dan SDM yang kurang memenuhi standar serta kualitas program yang tidak mendidik. Kualitas tayangan yang kurang baik menyebabkan gambar yang ditampilkan tampak buram dan cara pengambilan gambar dilakukan dengan tidak tepat.

Kualitas program yang tidak mendidik seperti iklan yang mengeksploitasi anak serta adegan sinetron yang terlalu banyak menampilkan pertengkaran keluarga dan kekerasan seringkali secara tidak sadar turut mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Itulah sebabnya dari jumlah pengaduan konsumen terhadap siaran televisi di LPK yang sedikit itu, pengaduan yang terkait dengan siaran sinetron tetap menduduki posisi teratas.

Meski jumlah pengaduan konsumen sangat sedikit, beberapa kegiatan telah diadakan lembaga ini sebagai upaya untuk melakukan pembinaan pada masyarakat tentang televisi. Pelatihan rutin setiap tiga bulan sekali diadakan sebagai upaya untuk mencerdaskan masyarakat. Materinya bervariasi, mulai dari dialog publik, kunjungan langsung ke dapur produksi acara televisi, hingga pelatihan pembuatan program televisi.

Sebuah sinetron anak berjudul “Kupetik Bintang” berhasil dilahir kan dari kegiatan ini. Tidak berhenti sampai disitu, komunitas “Pondok Film” juga dibentuk untuk menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin belajar untuk memproduksi film. “Televisi hanyalah sebuah kotak bodoh yang tidak bersalah, jadi yang disalahkan jangan televisinya tetapi programnya karena sebetulnya jika dimanfaatkan dengan baik televisi akan berguna bagi masyarakat. Kami berharap kegiatan ini mampu melahirkan orang-orang yang berkompetensi, yang mau bekerja untuk memperbaiki kualitas dunia pertelevisian.”   Melawan televisi adalah dengan mewarnai televisi.” demikian umat paroki Yohanes Pemandi ini menjelaskan. Upaya untuk memenuhi hak-hak konsumen televisi juga dilakukan oleh LPK dengan menindaklanjuti setiap pengaduan yang masuk. Melalui pendekatan personal, LPK akan memberikan masukan kepada pihak produsen untuk melakukan perbaikan program.

“Melawan kepungan televisi tidak cukup dengan mengkritisi setiap siaran televisi yang muncul melainkan dengan merangkul media tersebut. Dengan menjadi bagian didalamnya dan terlibat secara aktif, kita akan bergerak melakukan perbaikan bagi dunia televisi,” tutur pria yang memiliki motto hidup 'selalu berarti bagi orang lain' ini.

Bagi keluarga Harmoni, LPK berbagi kiat-kiat khusus untuk menjadi cerdas dalam kepungan televisi. Pertama, setiap orang hendaknya menonton secara sadar. Dalam hal ini, ada pola yang harus diubah, menonton bukan sekedar mengisi waktu luang melainkan merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan kesadaran penuh untuk dilakukan. Untuk kiat pertama ini, kita harus menghindari televisi menyala sepanjang waktu.

Kedua, jadikan televisi sebagai pilihan dan bukan kebiasaan. Kiat ini dapat diawali dengan mengajukan dua pertanyaan ini: Apakah acara yang ingin dilihat? Adakah kegiatan lain yang lebih baik dilakukan daripada menonton televisi? Hal ini akan memberi motivasi untuk melakukan kegiatan yang lebih berharga daripada sekedar menonton televisi.

Ketiga, terapkan “diet TV keluarga”. Kiat ini dapat mulai dilakukan dengan mengendalikan konsumsi menonton televisi maksimum dua jam sehari. Awalnya akan terasa sulit, tetapi dengan mulai memotong waktu menonton televisi, kita akan mulai belajar memberi makna pada waktu yang kita miliki. Kiat ini juga mengajak kita untuk menyiapkan “hidangan” televisi yang seimbang, yakni dengan mulai membuat pilihan-pilihan yang dipikirkan secara matang mengenai menu televisi apa yang akan dilihat oleh setiap anggota keluarga.

Setelah kita makan, sebaiknya jangan cuma duduk-duduk. Hal terburuk setelah makan adalah tidur. Begitu juga setelah menonton suatu program TV yang bermutu, kita jangan hanya duduk saja atau membiarkan anak langsung tidur melainkan mengajak mereka untuk berdiskusi apa yang dia dapat dari acara itu. Jangan lupa untuk menjelaskan jika ada hal-hal yang kurang baik.

Keluarga mungkin susah membendung serbuan tayangan televisi, tapi memilah dan memilih tayangan televisi yang sehat merupakan langkah cerdas menghadapi kepungan televisi.

 

Reza Kartika

Tidak ada komentar:

Kirim email


Nama
Alamat email
Subject
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Klik Dapat Dollar

Menjadi member Paid To Click

Klik Dapat Dollar