Pamong Katolik di Tengah Masyarakat

Salam Damai Kristus
Orang bijak mengatakan, kata yang terlalu sering diucapkan akan kehilangan makna. Kata “cinta”, misalnya, sudah terbukti meluntur maknanya digerus kasus kawin-cerai dan poligami.
Juga misalnya kata “habitus baru” atau “budaya tandingan”. Sebelum kata ini benar-benar hilang makna, kami mencoba menerapkannya dengan menerbitkan majalah di tangan Anda ini.Saat semua hal dalam hidup kita sedang dikomodifikasikan (ditransaksikan), kami memberi bacaan pada Anda secara gratis. Saat akses terhadap bacaan bermutu hanya dimiliki oleh mereka yang punya uang untuk membeli majalah mahal, kami mempersembahkan majalah ini gratis kepada Anda, apapun latar belakang dan status ekonomi Anda.
Saat mempersiapkan edisi ini, kami juga berkutat soal kata “garam dan terang”. Kami was-was, jangan-jangan kata ini juga akan kehilangan makna. Maka kami berkutat mencari padanan kata itu dalam hidup sehari-hari. Pilihan kami jatuh pada para pamong Katolik yang berkarya di tengah masyarakat jamak. Terlebih pada pamong “rendahan” yang justru bekerja tanpa pamrih setingkat kampung atau perumahan.
Menjadi abdi, teladan sekaligus mewarnai hidup bermasyarakat sungguh mengorbankan banyak hal. Dan pada merekalah kata “garam dan terang” pantas disematkan.
Selamat menikmati.

Tidak ada komentar:

Kirim email


Nama
Alamat email
Subject
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Klik Dapat Dollar

Menjadi member Paid To Click

Klik Dapat Dollar