Selesaikan Masalah Sebelum Tidur

Ironi pendidikan di Indonesia masih menjadi keprihatinan banyak kalangan. Tak terkecuali pasangan pendidik Bonaventura Suprapto (57) dan Sisilia Sri Lestari (57). Kompleksitas masalah pendidikan menjadi perhatian khusus Suprapto, sapaan akrab ayah 2 anak, Thomas Rahadi Utomo (33) dan Xaveria Rahmani Utami (27), yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya. Kepekaannya dalam persoalan pendidikan membulatkan tekadnya untuk semakin terjun dalam berbagai wadah dan komunitas peduli pendidikan. Hal ini nampak dalam keterlibatannya sebagai anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur. Menurutnya, persoalan pendidikan bukan hanya masalah biaya, melainkan penerapan sistem dan visi pendidikan yang belum jelas arahnya.Selain pendidikan formal di sekolah, anak juga harus mendapat pembekalan di keluarga. Keterbukaan, penghargaan satu dengan yang lain serta adanya pola komunikasi yang baik antar anggota keluarga merupakan kunci pembelajaran. “Antar anggota keluarga harus bisa menghargai tanpa basa basi, tanpa menuntut,” ungkapnya. Konflik orangtua jangan sampai diketahui anak. “Pertengkaran jangan dibawa tidur, harus dikomunikasikan secara terbuka. Memang gampang-gampang susah, tapi harus dilakukan,” imbuhnya.

Hidup bersama sebagai pasangan pendidik sepertinya menjadi nilai lebih bagi dua insan yang telah mengarungi bahtera perkawinan selama 33 tahun ini. Latar belakang mereka sebagai pendidik juga diterapkan di dalam keluarga.
Totalitasnya dalam dunia pendidikan nampak dalam pilihan aktivitas yang dilakukan. Sebagai Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Surabaya Suprapto sedang mensosialisasikan perlunya seksi pendidikan di tiap-tiap Paroki. “Tujuannya untuk membantu dan menjembatani umat Katolik yang kesulitan untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik. Memang tidak digratiskan begitu saja, tapi paling tidak ada perhatian terhadap permasalahan ini. Pihak sekolah juga harus bertanggung jawab ketika banyak umat Katolik yang tidak bisa sekolah di sekolah Katolik.”
Di rumahnya yang nyaman di jalan Cendrawasih Bunderan Rewin I/14, umat Paroki Salib Suci Tropodo ini lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca, menulis dan menimang dua cucunya. Di Surabaya, Suprapto dikenal sebagai kolumnis yang produktif. Artikelnya tentang pendidikan banyak tersebar di surat kabar. Keterlibatannya di Dewan Pendidikan Jawa Timur juga membanggakan gereja Katolik mengingat minimnya tokoh umat yang berkiprah di lembaga pemerintahan.
Sisilia (akrab dipanggil Cicik) yang dinikahinya 2 Januari 1975 di gereja Yohanes Pemandi Wonokromo, juga tipikal pendidik yang patut diteladani. 30 tahun hidupnya diabdikan untuk mengajar di SDK Kartini sebelum pensiun dua tahun lalu. Sebagai guru senior, pengalaman dan totalitasnya menjadi rujukan rekan-rekan guru lainnya. “Sebelum pensiun, mulai banyak guru-guru muda yang baik dan pintar mengajar di SDK Kartini. Saya bisa tenang pensiun setelah berbagi banyak ilmu dan pengalaman kepada mereka,” terangnya.

Profesi sebagai pendidik yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena dianggap tidak menjanjikan masa depan ternyata tidak terbukti pada pasangan ini. Dengan ketekunan dan komitmen tinggi pasangan ini bisa menikmati hidup yang lebih baik di usia senja. Keluarga yang masih gemar berlibur ke luar kota ini termasuk salah satu perintis berdirinya Paroki Salib Suci yang kala itu masih berstatus stasi dari Paroki induknya yaitu Gembala Yang Baik.
Suprapto saat antusias setiap berdiskusi soal pendidikan. Salah satu keprihatinannya terhadap pendidikan di Indonesia disebabkan karena hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan formal sebagai akibat dari lunturnya nilai-nilai kejujuran dalam dunia pendidikan. Tolok ukur keberhasilan sebuah pendidikan hanya dilihat dari hasil skor dan ijasah. Kadang sekolah merekayasa lulusan siswa sedemikian rupa sehingga orangtua tertarik mendaftarkan anaknya.
Substansi pendidikan yang seharusnya membentuk karakter dan kebebasan berpikir siswa mulai diabaikan. Kegiatan belajar-mengajar di kelas juga tidak mengalami perubahan selama bertahun-tahun. Kadang kelas menjadi wilayah otoritas guru yang membuat siswa tidak bebas mengekspresikan bakat, minat, karakter dan kecerdasannya. Pola pengajarannya juga masih satu arah yang ujungnya berdampak pada budaya takut bertanya, takut salah dan takut pada guru. Beberapa kelemahan pendidikan formal ini lalu berimbas pada menjamurnya lembaga bimbingan belajar.
Lebih lanjut Suprapto menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini semakin tidak jauh berbeda dengan dunia industri, di mana pengelola pendidikan lebih berorientasi pada profit.
Terhadap orang muda, pasangan ini pun berharap agar orang muda peduli terhadap persoalan pendidikan, mau mengkritisi dan terlibat dalam usaha-usaha perbaikan sistem pendidikan yang ada. (Agnes Lyta Isdiana)

Tidak ada komentar:

Kirim email


Nama
Alamat email
Subject
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Klik Dapat Dollar

Menjadi member Paid To Click

Klik Dapat Dollar