Terpilih Terus Delapan Periode

Semangat mengabdi dan suka berorganisasi adalah alasan pria yang memiliki nama lengkap Oentoro Hadiwidjaja ini ketika mau dipilih menjadi Ketua RT Klampis Indah. Ia terpilih secara demokratis sejak 1986 hingga sekarang.
Di awal kepengurusannya, pria yang pada 27 April nanti genap berusia 61 tahun ini lebih banyak memakai uang pribadinya. Rupanya ini diikuti oleh warga yang mulai mau menyumbang saat ada acara-acara yang membutuhkan dana.
Meskipun tidak paham komputer, prinsip transparansi keuangan tetap dijalankannya. Warga yang mau menyumbang dia sarankan untuk menyerahkan langsung ke bendahara RT untuk diberi tanda terima. Pada akhir periode ada edaran laporan keuangan. Siapa dan berapa sumbangannya dilaporkan selengkapnya kepada warga. Pengalamannya di masa muda sebagai aktivis mahasiswa di PMKRI Surabaya membekalinya pengetahuan dasar organisasi. Soal-soal administrasi dan pengorganisasian dikuasainya.
Ayah dari Agnes Liliawati Oentoro, Eduard Tjahajo Oentoro, Fransiscus Setiawan Oentoro berprinsip bahwa tetangga adalah saudara yang paling dekat. Prinsip itulah yang dia tularkan kepada warganya agar tumbuh rasa persauadaraan di antara mereka.
Suami dari Idawati Santoso (60), pensiunan guru SD, ini kadang harus menghadapi situasi dimana warga mulai tidak kompak. Untuk mengatasinya dia harus rutin mengadakan rembug warga.
Kejenuhan karena menjabat sampai delapan periode kadang dirasakan umkat Paroki St Maria Tak Bercela Ngagel ini. Setiap kali pemilihan RT kembali. Mungkin warga sudah terlanjur jatuh cinta pada kepribadiannya yang sederhana, terbuka, jujur dan suka melayani sehingga sulit menemukan orang yang sama seperti beliau. “Menjadi pamong itu pekerjaan mulia, lho. Itung-itung bisa mengurangi dosa” candanya mengakhiri obrolan.
(Yohana)


***

Satu-satunya Orang Katolik yang Menjadi Ketua RW



“Semenjak saya pindah disini pada tahun 2003, saya langsung didatangi oleh warga disini untuk minta tolong menjadi bendahara RT pada waktu itu, dan saat itu saya hanya bilang ya saya terima dan saya sanggup,” kenang Thomas Sardjono, (70) umat stasi St. Pauluis ini. Mengawali percakapan ringan suami dari Fransiska Daryati, (71) ini menceritakan kembali awal mulanya sebelum menjadi ketua RW di daerah perumahan Candramas, Juanda.
Pada saat ada pemilihan ketua RW untuk masa jabatan 2004-2008, Thomas didatangi oleh bapak Alex (ketua RW sebelumnya) untuk mengantikan dirinya, tapi karena sama-sama seiman dengan berat hati Thomas menolak karena alasan menjaga omongan yang tidak enak dari warga. Hingga beberapa hari kemudian ada perwakilan dari tokoh orang muslim yang mendatangi dan meminta tolong Thomas untuk maju menjadi calon ketua RW. Atas dukungan dari beberapa warga muslim inilah akhirnya mantan kepala sekolah ini bersedia dicalonkan untuk menjadi ketua RW dan maju bersama 2 orang calon lainnya.
Pada saat itu cara pemilihannya harus mempresentasikan dahulu visi dan misi sebelum menjadi ketua dan thomas dipilih oleh warga karena memang pantas dan cocok untuk menjadi ketua RW. kepercayaan warga terhadap Thomas cukup beralasan karena sebelum menjadi ketua RW, bapak yang gemar membaca ini pernah menjadi bendahara RT, bendahara keamanan kampung hingga bendahara I PKGC (perkumpulan kematian griya candramas).
Selama 3 tahun menjadi ketua RW banyak hal yang membuat bapak dari Paulina Kusumaningtyas, (36) dan Fransiskus Imbar Gunarso, (33) ini selalu merasa miris melihat beberapa warga katolik yang kurang bisa berbaur dan bersosialisai dengan warga di perumahan Candramas, salah satunya bila ada salah satu warga yang meninggal mereka jarang sekali terlihat. Keprihatinan kakek 1 cucu ini cukup beralasan, karena memang seperti itulah kenyataannya dan orang katolik lebih senang berkumpul dengan kelompoknya sendiri
Pria kelahiran 1938 ini bercerita banyak suka duka saat menjadi pengurus kampung, mulai dari menghampiri rapat hingga nyelayat orang meninggal, tapi itu semua dijalaninya dengan senang hati karena menurut Thomas berkumpul dengan orang yang berbeda-beda adalah suatu hal yang menyenangkan. “Saya mempuyai kenang-kenangan sebelum jabatan saya berahkir nanti tanggal 4 april yaitu sebuah berem (trotoar)” kata pria yang asli Salatiga ini.
Berada di tengah-tengah kelompok mayoritas adalah tugas yang berat bagi kita sebagai orang katolik untuk berani memyebarkan kasih Tuhan terhadap sesama dan Thomas sudah membuktikannya (Fransiscus Gandi Muda)

Tidak ada komentar:

Kirim email


Nama
Alamat email
Subject
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Klik Dapat Dollar

Menjadi member Paid To Click

Klik Dapat Dollar