Pekerjaan Perjuangan

Sekolah SMP Katolik Indriyasana VII identik dengan sekolah kaum pinggiran. Namun, berkarya didalamnya adalah bentuk perjuangan lain. Keterbatasan dana dan minimnya sarana dan prasarana membuat sekolah yang berlokasi di daerah Dukuh Kupang ini harus rela ditinggalkan oleh masyarakat.
Lewat perjuangan panjang selama 21 tahun, Aloysius Stefanus Johan Indarto (47) yang dipercaya memimpin sekolah tersebut harus memasang kedua kakinya lebih kuat. Tak sedikit yang harus diperjuangkan. Mulai dari penataan adminitrasi dan kesejahteraan guru, SPP murid yang sering terlambat dan tetap menjaga prestasi siswa. Meski sekolahnya 'berlabel' minus, Indarto sapaan akrabnya, tak mau tergelincir oleh sesaknya persaingan sekolah 'kaya'. Ia tetap berjuang dengan berbagai upaya untuk mewujudkan sekolah tersebut tetap diminati masyarakat, khususnya kalangan pinggiran. Harapanya kaum miskin masih punya tempat untuk menyekolahkan anaknya.
Kondisi lain yang cukup memprihatinkan adalah jumlah siswa yang kian menurun. Tahun ajaran ini saja jumlah siswanya tinggal 58 siswa, terdiri dari kelas I-16 siswa, kelas II-25 siswa dan kelas III hanya 17 siswa. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kelancaran operasional sekolah. Belum lagi minimnya kesejateraan guru. Untuk menggaji guru dari yayasan hanya mampu memberi Rp 15.000 per jam.
Saat ditanya tentang loyalitas para 'pejuang' disekolahnya, ia merasa kagum dengan teman-teman guru yang masih gigih untuk turut berjuang meski dengan pendapatan yang serba minim. Hal ini diakui bapak yang tinggal di jl. Krukah Lama tersebut sebagai bentuk dari pekerjaan perjuangan. Pendekatan dengan para guru dan karyawan terus dibina supaya komunikasi tetap berjalan. Keluh kesah dan kegelisahan
selalu didengar supaya para karyawan dan guru tetap teguh dalam menjalani profesinya.
Sekolah adalah hdiupnya. Meski kadang jengkel melihat keadaan, perasaan itu luluh ketika datang pikiran, "Kalau bukan kita, lalu siapa?". Rasa frustasi biasanya terobati bila perjuangan itu berhasil. Ia mencontohkan kebanggaannya manakala siswanya mendapatkan prestasi bagus dalam bidang studi. Tak ada tanda jasa yang besar, tetapi ada perasaan bangga yang menggericik dalam benaknya. Kebahagiaan kecil-kecil lain membuat istri dari Cicilia Erna Darmawati (37) ini lebih betah menjadi seorang 'pejuang' sekolah.
Indarto mengawali kariernya di SMP Katolik Indrayasana VII mulai tahun 1987 sebagai guru matematika dengan gaji 6000 per jam atau 108 ribu tiap bulan. Jumlah yang tidak banyak untuk ukuran tahun itu. Padahal hingga kini Ia sudah menjadi kepala sekolah dengan masa kerja 21 tahun gajinya tak lebih dari Rp. 500 ribu. Jumlah yang teramat sedikit untuk ukuran keluarga yang harus menanggung 3 anak dan istri. Bahkan suatu saat istrinya pernah menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain. Namun bagi bapak yang mengidolakan Uskup Mgr. Dibyokaryono ini, ia merasa lebih tertantang dengan pekerjaan guru. "Kalau saya ngaboti guru yang bergaji minim, sejak dulu saya harus mengundurkan diri", tapi tidak untuk itu saya berjuang. Saya tetap komitmen dengan profesi saya", paparnya.
Untuk bisa menghidupi keluarga, Indarto harus mencari tambahan lain. Memberi lest privat dan membuka toko kecil dikampungnya adalah cara lain untuk bisa bertahan hidup. Menurutnya rejeki bisa dari tempat lain, namun baginya bentuk pelayanan diwujudkan dalam lembaga sekolah. Begitulah pilihannya, menjadi seorang kepala sekolah yang tak pernah berpikir mencari kekayaan. Indarto tetap bersahaja dengan pilihan hidupnya.

Aloysius Suryo Abie

Tidak ada komentar:

Kirim email


Nama
Alamat email
Subject
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Klik Dapat Dollar

Menjadi member Paid To Click

Klik Dapat Dollar