Pretensi


Ada sekat amat tipis antara pretensi atau keinginan dengan nafsu yang instingtif. Saking tipisnya, orang dapat berpindah, meloncat dan berkelit di antara keduanya. Saat orientasi hidupnya mulai terbaca oleh orang lain sebagai sebentuk nafsu manusiawi untuk kepentingan dirinya sendiri, maka ia segera mengklarifikasi posisinya dengan buru-buru menyebutnya sebagai “demi kepentingan banyak orang”.

Dalam sejarah peradaban manusia, hanya tiga nafsu ini yang susah dikendalikan; menumpuk harta, merebut tahta dan mengumbar syahwat. Ilmuwan, agamawan, filsuf, para sufi, psikolog, sosiolog hingga seniman memeras keringat guna menemukan formula jitu yang bisa mengendalikan nafsu itu. Sampai hari ini, apa yang dipikirkan para cerdik-pandai itu masih menjadi masalah rumit. Setidaknya, beberapa tokoh besar dunia telah terbukti terjerembab dalam labirin nafsu dan pretensi ini.

Inilah “cuaca” yang kita rasakan hari-hari ini dengan berita soal koalisi calon presiden dan wakil presiden. Berita itu menyesaki seluruh kolong media dengan fenomena yang seragam; ini soal pembagian kekuasaan. Ada tokoh-tokoh yang jelas tertampang sebagai aktor utama. Namun, sesungguhnya ada ratusan orang di balik “berita koalisi” itu yang juga sedang saling sikut berebut kekuasaan satu sama lain. Mereka merapat ke kiri sambil menempel ke kanan. Mereka menyanjung si A sambil memuji si B. Juga berkomitmen terhadap si C setelah berjanji pada si D. Tujuan hanya satu, mereka dapat ikut mencicipi “kue kekuasaan” yang akan segera dibagi dalam cuilan-cuilan kecil.

Orang-orang inilah yang saya gambarkan di baris-baris pertama esai ini. Mereka nyata dan ada di sekitar kita. Pikiran, orientasi dan cara pandang mereka kadang berseliweran dan (sebentar lagi) merasuk di benak kita. Mereka tidak punya waktu lagi untuk membedakan antara pretensi dan nafsu. Mereka kikuk membedakan antara pengabdian pada negara dan meningkatkan status sosial. Juga ragu membedakan antara perjuangan ideologi dan meningkatkan akses ekonomi pribadi.

Hati-hatilah berpretensi. Jika kita sulit mengelolanya, tulah akan menimpa kita.

 

Tidak ada komentar:

Kirim email


Nama
Alamat email
Subject
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Klik Dapat Dollar

Menjadi member Paid To Click

Klik Dapat Dollar