Ketika Ilmu Pengetahuan Tak Memberi Jawaban


Jika kita pernah mendengar atau membaca kisah kanak-kanak Yesus yang diketemukan di bait suci oleh orang tuanya (Lukas 2:41-52), disana kita bisa mengetahui bahwa Bunda Maria menyimpan semua itu di dalam hatinya. Demikian juga yang dialami pasangan Galih Reksanto (29) dan Elisabet Dewi Retnosari (30) saat harus menghadapi kenyataan bahwa benih dalam rahim sang istri tak mampu didiagnosa oleh kecanggihan teknologi kedokteran.

Di awal pernikahan mereka, dua kali sudah Galih dan Elisabet harus merelakan kehilangan calon buah hati. Hal ini tentunya mendatangkan kekecewaan dalam hati mereka, namun tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap berusaha. Apalagi dukungan dari keluarga dan para sahabat begitu besar. Dengan pengalaman itu justru mereka dapat saling menguatkan satu sama lain.

Memang dokter menyatakan bahwa ada sumbatan di saluran rahim Elisabet, namun secara hormonal mereka sehat. Hal inilah juga yang menguatkan harapan mereka. Pengobatan dari dokter pun mereka jalani, tapi tak kunjung menunjukkan hasil. Hingga suatu hari seorang rekan mereka menyarankan untuk mencoba pengobatan alternatif. Sang tabib mendiagnosa hal yang sama, dan melakukan terapi penyembuhan. Atas saran seorang romo, pasutri yang menikah tiga tahun lalu ini memutuskan untuk membeli sebuah rumah guna mengganti suasana.

Tak berapa lama, terapi yang mereka jalani membuahkan hasil. Seorang calon jabang bayi bertumbuh dalam rahim Elisabet. Agar pengalaman sebelumnya tidak terulang, mereka segera menemui dokter untuk memeriksakan dan meminta petunjuk gizi. Sayangnya, ketika dokter melakukan USG, si buah hati tidak dapat terlihat. Hal ini tentunya sangat mengejutkan mereka. Demikian pula saat beberapa waktu yang lalu mereka mencoba memeriksakannya kembali, tetap saja Dokter tidak dapat mendeteksi dan memberikan penjelasan, padahal kandungan Elisabet sudah cukup besar, bahkan anak dalam rahimnya telah memberikan tanda kehidupan.

Akhirnya umat paroki St Maria Anunntiatta Sidoarjo ini pun mengambil keputusan untuk menjaga calon putra mereka secara otodidak. Galih dan Elisabet rajin membaca literatur tentang cara-cara menjaga kandungan, serta rutin memeriksakannya pada tabib. Tak lupa mereka memasrahkan segalanya pada Tuhan yang empunya kehidupan sebab mereka tidak menemukan jawaban medis atas apa yang terjadi. (*)

Yohani Indrawati

Tidak ada komentar:

Kirim email


Nama
Alamat email
Subject
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Klik Dapat Dollar

Menjadi member Paid To Click

Klik Dapat Dollar